Dosen Pendidikan Fisika UIN Walisongo Hadirkan Gagasan “Teaching Beyond AI” di Universiti Teknologi Malaysia

Dosen Pendidikan Fisika UIN Walisongo Hadirkan Gagasan “Teaching Beyond AI” di Universiti Teknologi Malaysia

Johor Bahru, Malaysia — Dosen Program Studi Pendidikan Fisika, Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN Walisongo Semarang, Dr. Andi Fadllan, S.Si., M.Sc., mendapat kesempatan menjadi narasumber dalam kegiatan Guest Lecture yang diselenggarakan oleh Faculty of Educational Sciences and Technology (FEST), Universiti Teknologi Malaysia (UTM), pada Jumat, 7 Agustus 2026. Kegiatan yang berlangsung di FEST UTM ini menjadi salah satu bentuk penguatan jejaring akademik dan kolaborasi internasional antara UIN Walisongo Semarang dan UTM.

Kegiatan Guest Lecture dibuka oleh Prof. Dr. Noraffandy bin Yahaya, Dekan FEST UTM, dan diikuti oleh dosen serta mahasiswa program magister dan doktoral FEST UTM. Kegiatan tersebut juga dihadiri oleh dosen dan mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi UIN Walisongo Semarang. Kehadiran sivitas akademika dari kedua institusi menjadikan kegiatan ini sebagai ruang akademik untuk berbagi gagasan, pengalaman, dan perspektif mengenai arah pendidikan di tengah perkembangan teknologi kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) yang semakin pesat.

Dr. Andi Fadllan menyampaikan materi berjudul “Teaching Beyond AI: Fostering Creativity and Critical Thinking through Sci-CPS”. Materi ini mengangkat isu penting tentang perlunya pendidikan merespons perkembangan AI tanpa kehilangan esensi pengembangan kemampuan berpikir dan potensi kemanusiaan peserta didik. Dr. Andi Fadllan menyampaikan bahwa kreativitas dan berpikir kritis merupakan dua kompetensi yang sangat penting di era AI. Ketika AI mampu menghasilkan jawaban, informasi, dan berbagai produk secara cepat, pendidikan tidak cukup hanya membekali peserta didik dengan kemampuan menggunakan AI.  Peserta didik perlu memiliki kemampuan untuk mengajukan pertanyaan bermakna, mengevaluasi informasi, menghasilkan gagasan baru, mengambil keputusan, serta menyelesaikan permasalahan yang kompleks. Pentingnya kedua kompetensi tersebut diperkuat melalui berbagai kerangka kompetensi pendidikan masa kini, antara lain OECD Learning Compass 2030, Partnership for 21st Century Skills, serta AI Competency Framework for Teachers. Berbagai kerangka tersebut menunjukkan bahwa pendidikan di era AI perlu mengembangkan kompetensi manusia yang memungkinkan peserta didik menggunakan teknologi secara kritis, kreatif, bertanggung jawab, dan bermakna.

Dosen Pendidikan Fisika UIN Walisongo Hadirkan Gagasan “Teaching Beyond AI” di Universiti Teknologi Malaysia

Perkembangan AI juga mendorong terjadinya transformasi pola interaksi dalam pembelajaran. Jika sebelumnya pembelajaran banyak dipahami sebagai interaksi antara guru dan murid atau dosen dan mahasiswa, maka perkembangan AI menghadirkan pola baru berupa interaksi guru–murid–AI. Pola baru ini menempatkan AI bukan sebagai pengganti guru, melainkan sebagai co-pilot atau pendukung proses pembelajaran.

“AI seharusnya tidak menggantikan proses berpikir siswa. Sebaliknya, AI perlu dimanfaatkan untuk mendukung siswa dalam mengeksplorasi ide, menguji gagasan, memecahkan masalah, dan merefleksikan proses belajarnya,” demikian salah satu gagasan utama yang disampaikan dalam paparan tersebut.

Untuk mewujudkan pembelajaran yang mampu mengintegrasikan proses berpikir manusia dan dukungan AI, Dr. Andi Fadllan memperkenalkan Scientific Creative Problem Solving (Sci-CPS) sebagai model pembelajaran yang dapat digunakan guru dan dosen. Sci-CPS mengintegrasikan proses ilmiah, pemecahan masalah kreatif, serta pemanfaatan AI dalam satu rangkaian pembelajaran yang berorientasi pada pengembangan kompetensi peserta didik. Model Sci-CPS terdiri atas empat fase utama, yaitu Extraction, Design, Invention, dan Termination. Pada setiap fase, peserta didik diarahkan untuk mengembangkan kreativitas sekaligus keterampilan berpikir kritis dengan memanfaatkan AI secara terarah. AI dapat digunakan untuk membantu mengeksplorasi informasi dan perspektif, menghasilkan serta mengembangkan alternatif gagasan, mendukung pengujian dan penyempurnaan solusi, hingga membantu proses refleksi dan evaluasi. Model ini tidak hanya mengajarkan siswa cara memperoleh jawaban dari AI, tetapi mendorong mereka untuk mempertanyakan, menganalisis, menciptakan, menguji, mengevaluasi, dan memperbaiki gagasan yang dihasilkan. Model SciCPS menempatkan peserta didik tetap sebagai aktor utama dalam proses berpikir dan pemecahan masalah.

Dr. Andi Fadllan menutup paparannya dengan mengajak para calon pendidik dan pendidik untuk melihat kembali peran guru di tengah perkembangan AI. Menurutnya, guru masa kini tidak hanya dituntut untuk menguasai teknologi, tetapi juga harus mampu merancang pembelajaran yang bermakna, memandu peserta didik untuk mengeksplorasi, berdiskusi, dan menemukan, mendorong rasa ingin tahu dan inovasi, menggunakan AI secara bertanggung jawab, kritis, dan etis, serta membantu peserta didik menyelesaikan permasalahan nyata dan kompleks.

Kegiatan Guest Lecture ini sekaligus menunjukkan bahwa Pendidikan Fisika UIN Walisongo Semarang terus membuka ruang bagi pengembangan wawasan akademik dan jejaring internasional. Keterlibatan dosen dan mahasiswa dalam forum akademik internasional seperti ini menjadi bagian penting dalam mempersiapkan calon guru fisika yang tidak hanya menguasai konsep dan pedagogi, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi serta merancang pembelajaran inovatif yang berpusat pada peserta didik.

Bagi mahasiswa Pendidikan Fisika, pengalaman tersebut memberikan gambaran bahwa menjadi guru fisika di era AI bukan sekadar mengajarkan konsep-konsep fisika, tetapi juga membentuk generasi yang mampu berpikir kritis, kreatif, inovatif, dan mampu menggunakan teknologi secara bijak untuk menyelesaikan persoalan nyata. Semangat inilah yang terus dikembangkan dalam pendidikan calon guru di Program Studi Pendidikan Fisika FST UIN Walisongo Semarang.Teaching beyond AI—mendidik bukan sekadar agar siswa mampu menggunakan AI, tetapi agar mereka tetap mampu berpikir, mencipta, dan memecahkan masalah sebagai manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *